Senin, 21 November 2016

Perpanjangan sim di sim corner PTC (Pakuwon Trade Center) surabaya 2016

Jam 0.00 suatu hari di bulan oktober saya terbangun karena mendapat ucapan selamat ulang taun dari suami tercinta..menyusul anak-anak dengan membawa kue lengkap dengan lilin menyala. Bahagia sekali rasanya mendapatkan perhatian dari  orang-orang yang kita cintai. Apalagi hadiah surprise menyertai...i phone 7 plus. Thank you honeyyy.....

Setiap menjelang  hari ulang taun saya selalu mengecek expired date antara KTP dan SIM. Jadi saya tahu di tahun ini SIM A saya mati, dan memang sudah berencana memperpanjangnya persis di hari ulang taun. Pengalaman sebelumnya pernah mengantar suami memperpanjang sekitar 1 (satu) minggu sebelumnya masa berlaku cuman 4 tahun bukan 5 tahun. Daripada rugi setahun mending pas hari terakhir berlaku saja, biasanya di hari ulang taun kita. Kebetulan masa berlaku terakhir adalah hari minggu. Untunglah saat ini perpanjangan bisa dilakukan di SIM corner yang ada di mall atau SIM keliling. Karena hari minggu tempat yang paling bisa diandalkan adalah mall. Meskipun begitu bukan berarti jam tutupnya selalu mengikuti jam mall lho. Kali ini saya melakukan perpanjangan di SIM corner PTC  Surabaya. Hari minggu hanya sampai jam 19.00 Wib.

Berbekal pengalaman mengantar pengurusan perpanjangan di SIM keliling taman bungkul pada tanggal 4 april 2016, saya hanya membawa SIM asli, KTP asli dan foto copynya. Ternyata setelah sampai loket syarat yang saya bawa masih kurang lengkap. Syarat yang harus dibawa adalah SIM asli dan foto copinya, KTP asli dan foto kopinya serta surat keterangan dokter. Ingat SIM dan KTP harus masih berlaku. SIM yang mati sehari saja sudah tak bisa diperpanjang. Aturan yang baru kita harus mengurus SIM baru.

Waktu itu syarat yang kurang saya bawa adalah foto copy SIM dan surat keterangan dokter. Bisa dibayangkan hari minggu untuk mendapatkan tempat parkir saja sudah susah sekali. Pastilah kita sedapat mungkin tak keluar mall supaya tak sengsara lagi mencari tempat parkir. Kebetulan ada yang bisa bantu foto copy di PTC, hanya saja saya belum mendapatkan surat keterangan dokter. Sebenarnya ada klinik dokter umum di lantai yang sama, cuman pada hari minggu tutup. Akhirnya terpaksa saya keluar parkir menuju National Hospital karena rumah sakit ini yang paling dekat di wilayah itu setau saya. Biaya untuk mendapat surat keterangan dokter di rumah sakit ini Rp 150.000.


 Persyaratan saya sudah lengkap saya siap kembali ke counter. Setelah diperiksa petugas dan dinyatakan lengkap syarat2nya baru diminta bayar biaya perpanjangan yaitu sebesar Rp 80.000. Baru kemudian diberikan form untuk kita isi. Waktu itu tak ada antrian. Hanya saja petugas foto ke toilet sehingga saya harus menunggu beberapa saat. Begitu petugas siap saya langsung dipanggil untuk foto. Kemudian langsung print. Jadi dech SIM A saya yang baru dan berlaku sampai 5 tahun mendatang, yaitu tahun 2021. *by:Yunie sudiro.

Jumat, 20 November 2015

MRT dan River Side Singapore

Senin, 20 Juli 2015
Akhirnya kita bisa menyusun liburan. Perlu pembaca ketahui, karena sibuknya mengurus PPDB (penerimaan Peserta Didik Baru) hampir saja saya, suami dan anak-anak melewatkan liburan pergantian tahun ajaran baru. Dan kami hanya punya waktu sekitar seminggu untuk mempersiapkannya. Kali ini destinasi pilihan kami adalah Singapore.

Persiapan awal adalah mengecek masa berlaku parpor. kemudian baru kita hunting tiket dan hotel. Waktu itu kami memanfaatkan aplikasi traveloka. Sesuai jadwal dan budget yang kami inginkan, pilihan jatuh pada maskapai Jetstar. Dan tiket pulang pergi pun sudah di tangan. Kami akan menghabiskan waktu selama 4 hari 3 malam di sana. Rencana berangkat hari selasa dan kembali di hari Jumat. Saat itu Jadwal berangkat selasa, 21 Juli 2015 dari Surabaya (SUB) jam 13;15 dan kedatangan di Singapore (SIN) jam 16.30. Kami juga sudah eksekusi 2 kamar di Fragrance Hotel untuk tanggal 21-24. Selain itu kami juga sudah membeli tiket Universal Studio Singapore (USS) di counter jetstar Grandcity Surabaya. oh ya, tak lupa juga menukar uang rupiah ke dolar singapore di money changer.

Seperti pada umumnya, malam sebelum keberangkatan kami packing. Bawaan harus seringkas mungkin dengan mengedepankan skala prioritas. Jangan sampai di perjalanan kita tak menihmati liburan malah sibuk mengurus barang bawaan. Bepergian yang sedikit berpetualang juga membutuhkan kekuatan fisik, jadi barang bawaan yang berat dapat membuat repot dan menambah kelelahan. Apalagi kalo pulang ada tambahan belanjaan,..bagasi harus benar-benar diperhitungkan. Jangan lupa juga untuk tidak membawa cairan berukuran besar ke kabin pesawat, misalnya: air mineral, lotion, shampo.

Selasa, 21 juli 2015
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu. kami akan berangkat ke bandara sekitar jam 10. 30. Pagi hari kami mengawali hari dengan antre mandi. Eh,, tiba-tiba sekitar jam 08.30 ada sms dari jetstar pesawat delay. kebetulan waktu itu, beberapa hari sebelumnya bandara Juanda sering buka tutup karena erupsi gunung raung. kami masih optimis meski delay hari ini tetap berangkat karena bandara Juanda buka. Masih dengan rasa berharap, sekitar 2 jam setelahnya jetstar kasih kabar bahwa pesawat kita cancel. huaa..hua..kecewa berat ,,. Dengan sigap saat iitu juga saya dan suami buka komputer dan cari tiket pengganti. Tapi sayang adanya cuman malam itupun transit jakarta lanjut perjalanan esok hari di penerbangan pertama. Apa boleh buat pencarian lansung tertuju untuk tanggal 22, meski harus menghanguskan 2 kamar hotel semalam. Dan.... kami mendapatkan yang sesuai, Garuda indonesia dengan transit Jakarta.

Lega sudah perasaan kami walaupun ada rasa kecewa yang tersisa. Paling tidak kami tidak menghanguskan semua persiapan di singapore yang sudah terbayar. Saat itu juga kami melepas rasa tegang dengan makan siang penyetan di waroeng ipang. Padahan beberapa hari sebelumnya kami semua pantang makan sambal karena takut saat liburan sakit perut.

Rabu, 22 juli 2015
Tiket keberangkatan terjadwal jam 07.50 dari Surabaya (SUB) - Jakarta (CGK) 09.25, transit berangkat dari Jakarta (CGK) 11.30 - Singapore (SIN) 14.20. Jam 05.00 pagi kami mulai pesan taxi untuk ke bandara. Travel bag langsung kami bawa tanpa membongkar lagi. Perjalanan ke bandara sangat lancar. Kamipun landing di bandara changi Singapore dengan selamat dan sesuai jadwal.

Perpetualangan dimulai. Secara berurutan: turun pesawat, melewati pemeriksaan, mengisi form imigrasi, melalui gate imigrasi, lalu mengambil bagasi. Setelah itu kami membeli The Singapore Tourist Past. Kartu ini bisa digunakan untuk naik bus, MRT dan LRT train unlimited selama masa berlaku. Harga dari tourist past sudah termasuk $10 sebagai deposit kartu. Pada saat masa berlaku habis, kita bisa mengembalikan kartu dengan mendapatkan $10 tersebut. Pengembalian kartu bisa dilakukan di Changi Airport. Pengembilan kartu hanya bisa dilakukan selama 5 hari setelah pembelian. Pada waktu itu daftar harga The Singapore Tourist Past termasuk deposit adalah sbb: untuk 1 hari $20, untuk 2 hari $26, untuk 3 hari $30. Pembayaran bisa tunai dan kartu kredit. Setelah melakukan pembayaran kita mendapatkan kartu dan panduan termasuk peta MRT.




Gambar 1: antre beli tourist past














Gambar 2: peta MRT


Kartu tourist past langsung dapat dipergunakan. Tap kartu, dan portal pintu masuk terbuka. Jangan lupa memperhatikan antrean. Petunjuk antrean tergambar di lantai. Selain itu kita juga harus selalu memperhatikan aturan-aturan yang berlaku. Misalnya: di dalam MRT kita dilarang makan dan minum. Aturan ini bisa dilihat pada petunjuk-petunjuk yang ada (gambar 3). Untuk yang belum pernah ke Singapore tak perlu khawatir nyasar. Di negara ini sangat friendly, banyak petunjuk. Petunjuknya ada yang bahasa inggris dan bahasa melayu.






















Gambar 3: Aturan di dalam MRT























Gambar 4: Suasana di MRT


Fragrance hotel - Riverside terletak di Hongkokng Street 20. Keluar dari stasiun terdekat adalah sebuah mall. Untuk ke hotel harus menyeberang jalan raya. Penyeberangan ada 2 jalan, bisa langsung melalui jalan raya dengan menunggu lampu merah ato lewat atas. Untuk lewat atas tak perlu khawatir capek karena selain tangga tersedia juga eskalator. Setelah turun penyeberangan kita berjalan ke kanan menyusuri trotoar. Perhatikan sisi kiri jalan. Jalan yang ke 2 (semoga tidak salah ingat) kita masuk. Menyisiri sebelah kiri jalan, sekitar 100 meter kita sudah menemukannya. Situasi hotel ini seperti hotel budget kalo di indonesia, tak luas tapi bersih dan rapi. Pegawainya tidak banyak dan masih muda-muda. Mereka juga bisa berbahasa indonesia.

Setelah check in, kami langsung ke kamar untuk membersihkan diri dan bersiap menjelajah sekitar. Area jelajah pertama adalah mall dekat hotel, tempat pertama kali kami turun MRT. hari mulai gelap, anak-anak sudah teriak lapar.. Jadi kami saat itu langsung hunting tempat makan. Kami mencoba menelusuri setiap counter makanan. Sekitar 10 buah sudah kita lirik, tapi semua ada menu pok nya. Karena sudah pada kelaparan, akhirnya kami cari makanan yang bukan khas sana. Pilihan jatuh pada king burger. Ehh...akhirnya makannya sama kayak di Indo..bedanya, harga lebih mahal kalo dirupiahkan..he2..

Perut sudah kenyang. Tenaga sudah kembali maksimal. kami menyelusiri mall. Ternyata pintu sisi lainnya adalah river side. Di sepanjang pinggir sungai terdapat tempat makan dan kafe. Kita juga bisa membeli tiket perahu. Tiket ada 2 pilihan, saya menyebutnya paket 1 (lebih murah )dan 2 (lebih mahal). Yang lebih murah hanya naik perahu. Yang lebih mahal naik perahu lebih jauh dan berhenti sebentar di tempat tertentu sambil menihmati minuman secara cuma-cuma. Dengan alasan pemerataan distribusi budget, saya putuskan yang murah saja. Lagi-lagi harus antre. Di sana tersedia bangku untuk menunggu. Sambil menihmati pemandangan sungai, tak terasa giliran naik perahu tiba. Buat kami, paket 1 sudah cukup. Perahu menyusuri sepanjang sungai dengan view tempat-tempat yang menjadi pusat perhatian.

















Gambar 5: Dermaga























Gambar 6 : Suasana di Perahu
























Gambar 7:  View Sepanjang Sungai


Selesai sudah berkeliling naik perahu. Kami turun di tempat semula. Malam mulai larut, kami langsung kembali ke hotel dan beristiraha untuk mengumpulkan tenaga agar dapat melanjutkan berpetuangan di esok harinya.*by: Yunie Sudiro.

Jumat, 06 November 2015

Dieng dan Panti Asuhan

Haloo... Say, tgl 29 November 2015 ada acara ke Dieng ikutan ya.. itu adalah penggalan chat dari salah satu sohib saya yang tinggal di Semarang. Seolah-olah kasih kabar, tapi kenyataannya setengah memaksa agar saya bergabung di acara itu. hi..hi peace sister..Sebenarnya saya sih suka-suka aja kalo jalan sama sohib-sohib tercinta ini, tapi kadang waktunya gak pas sama jadwal rutinitas. Dan saat itu ternyata setelah cek and ricek, saya gak bisa pergi di tanggal itu. Jadinya langsung kurang bersemangat membahasnya dengan harap-harap cemas menunggu keajaiban ada keberuntungan, yaitu perubahan jadwal agar bisa sinkron.

Kurang lebih seminggu sebelum hari H, Dewi fortuna telah berpihak kepada saya. Acara di rubah tanggal 27 dan jadwal rutinitas saya juga free di minggu itu. Langsung saja saya mulai eksekusi tiket pesawat ke Semarang. Kebetulan ada poin Garuda untuk bisa ditukar tiket gratis, meski harus bayar pajak sendiri. Tapi lumayanlah tetap sangat hemat daripada bayar sendiri semua. Tiket berangkat oke, tapi baliknya untuk kuota tukar poin habis. Mungkin kalo jauh-jauh hari saya masih dapat tempat. Demi untuk " me time" rela merogoh kocek untuk beli tiket balik. Dan semuanya sudah siap, tinggal menunggu hari keberangkatan, yaitu sehari sebelum ke Dieng (tanggal 26).

Hari minggu, tanggal 25 telah tiba. Packing dan hunting oleh-oleh buat sohib tersayang dimulai. Pilihan jatuh di rumah makan Bu Rudy. Saya membeli roti bluder cokro khas madiun, udang kering dan sambal bawang khas bu Rudy. Fyi, sambal bu Rudy terkenal pedasnya. Penyuka pedas kebanyakan cocok sama sambal ini. Para sahabat semarang juga sudah memastikan jam arrival, biar tahu kapan harus jemput. Hanya tinggal menunggu waktu esok untuk berangkat.

Pagi buta seisi rumah sudah sibuk bersiap. Karena suami terlalu sayang sama saya , ciee.. maunya mengantar saya ke bandara bersamaan ngantar anak ke sekolah. Pagi itu lumayan lengang, masih ada cukup waktu untuk bercengkrama di kedai kopi bandara. Oh ya, untuk bandara Juanda penumpang pesawat garuda keberangkatan di terminal T2 (biasanya untuk penumpang internasional). Karena ke Semarang pake pesawat kecil, setelah check in bisa keluar lagi saat menuju gate keberangkatan (boarding). Saat itulah saya bisa ketemu suami lagi dan ngopi bareng di dekat pintu boarding. Dan..jepret saya pun terdokumentasi di warung kopi. he..he... Seperti biasa, langsung ganti pic BBM. Detik itu juga, sahabat di semarang tangannya gatal berkomentar, ..." sama sapa itu??" . Katanya dia perhatikan ada yang moto, tidak selfie katanya.. *kepo amat..he2.. Setelah itu, dia baru tau kalo T2 pengantar masih bisa menemani saat kita nunggu sebelum boarding.


Gambar 1: Ngopi

Hari pertama jalan di Semarang, hari kedua jalan ke Dieng, hari ke tiga jalan di semarang lagi, dan hari ke empat balik ke Surabaya. Kali ini saya bahas ke Dieng dulu. Semoga catatan hari-hari di Semarang tidak kelupaan posting di lain kesempatan. Kepinginnya konsisten, tapi apa daya urusan ini sering kali terkalahkan dengan urusan lainnya.

Cengkling ...suara group BBM di malam sebelum keberangkatan ke Dieng. Koordinator mengingatkan bahwa jam 06,00 harus sudah kumpul di tempat yang disepakati dan memakai dress code putih, jean muslimah. Suara cengkling berikutnya bersusulan, semua minta mundur setidaknya 06.30 karena harus ngantar anak ke sekolah. Akhirnya bus rombongan berangkat sekitar jam 07.00. Otomatis jam berangkat lebih telat dari jadwal semula. Apapun itu semua anggota rombongan bersuka ria dan sibuk berfoto selama perjalanan meski harus bersusah payah menahan goncangan bus.. *dasar mak-mak narsis, termasuk saya..

Setelah beberapa jam kita sampailah di tujuan pertama yaitu komplek candi Dieng. Kami tiba di sana saat tengah hari. Makanya meskipun di perbukitan tetap saja terasa panas. Kita bisa menihmati pemandangan pegunungan, kesegaran udara dan megahnya candi sebagai karya bangunan bersejarah. oh ya, untuk masuk area ini dikenakan retribusi per orang. Dan jangan lupa menyimpan karcisnya karena pengalaman kami saat keluar diminta menunjukkan tiket lagi.



Gambar 2: Candi di Dieng

Perjalanan selanjutnya seharusnya ke telaga warna dan dieng teathre. Berhubung waktu yang semakin molor dari jadwal sebelumnya maka kita tiadakan dua destinasi tersebut. Perlu diketahui rombongan juga mengagendakan berkunjung ke panti asuhan di Temanggung jam 13.00. Padahal sekitar jam 13.00 masih di area candi. Untuk itu perjalanan dipersingkat supaya tetap bisa berkunjung ke panti asuhan saat perjalanan pulang ke Semarang. Selanjutnya kami melanjutkan ke Sikadang, yaitu kawah yang ada semburan lumpur dan berasap putih pekat. Kawasan ini berbau belerang yang sangat menyengat. Di tempat wisata ini banyak pedagang asongan yang menawarkan masker. Selain itu ada semacam pasar yang menjual hasil bumi dan makanan khas daerah sebagai oleh-oleh. Kebanyakan dari rombongan kami tak mau beli masker, karena jelas-jelas merusak penampilan saat berfoto. Alhasil setelah beberapa lama pangkal hidung saya terasa sakit dan tahu-tahu pilek. Selain itu kita juga menahan bahu belerang yang sangat menusuk hidung. Tapi tak perlu khawatir setelah keluar dari area sikadang gejala yang saya sebutkan hilang dengan sendirinya. Mungkin karena tubuh saya tidak biasa di lingkungan yang berbelerang.




Gambar 3: Pintu Masuk Sikadang




Gambar 4: Area Berkawah

Sebelum meninggalkan Wonosobo kami mampir ke tempat oleh-oleh. Oleh-oleh yang paling terkenal dari wilayah ini adalah rica-rica. Oleh-oleh ini berbentuk semacam manisan lengkap dengan sirupnya. Biasanya dikemas dalam botol kaca ato kemasan plastik seperti kemasan air minum. Manisan ini terbuat dari buah yang mirip pepaya kecil yang tumbuh di wilayah Dieng. Selain itu masih banyak jenis makanan khas Dieng yang bisa dibeli sebagai buah tangan.

Selesai sudah acara wisata,selanjutnya kami akan bekunjung ke panti asuhan Darul Hadlonah Temanggung. Kabupaten Temanggung adalah wilayah yang kita lewati menuju Semarang. Sehingga tidaklah rumit untuk mencapai tempat tersebut. Apa yang kami berikan mungkin saja tidak seberapa. Kami ke sana dengan niat baik, memberikan dukungan dan semoga bisa sedikit membantu. Setelahnya, kami langsung melanjutkan perjalanan pulang menuju Semarang. Bus sudah tidak segaduh tadi pagi. Sebagian besar tidur terlelap dalam mimpi masing-masing. *)Oleh: Yunie Sudiro

Senin, 19 Oktober 2015

Lapangan Kodam V Brawijaya Surabaya


Hampir lima tahun rute saya setiap hari melewati  jalan Brawijaya. Saya sebenarnya tau bahwa dibalik jalan tersebut terdapat lapangan yang sangat luas. Hanya saja lapangan ini tak tampak dari jalan yang saya lewati karena tertutup tempat driving dan gedung olah raga lainnya. Intinya awalnya memang saya tak begitu perduli tentang keberadaannya. Meskipun begitu, saya pernah sekali menemani anak laki-laki saya (Putra) melihat pameran HUT TNI AD. Putra suka melihat pameran perlengkapan perang. Di hari itu pengunjung juga diberi kesempatan memegang senjata dan naik tank. Selain itu juga ada atraksi terjun payung dan barisan tentara. Yang lebih membuat lebih meriah lagi adalah disediakannya makanan rombong gratis yang jumlahnya mungkin sekitar seratus. Rombong makanan terdiri dari macam-macam jenis, ada soto, bakso, dan lain-lain yang biasa dijajakan di wilayah Surabaya.

Gambar 1: Memegang Senjata


Gambar 2: Naik Tank                                                                           



Gambar 3: Terjun Payung



Gambar 4: Barisan Tentara


Gambar 5: Makanan Gratis

Suatu hari saya ditanya seorang teman apakah anak pertama sudah berangkat sekolah sendiri? Saya bilang belum karena belum bisa berkendara motor ataupun mobil. Lalu teman saya menanyakan kenapa tidak belajar? Saya bilang pernah belajar motor di komplek perumahan tapi belum lancar karena banyak halangan. Dan saya ngeri kalo menabrak mobil yang parkir di tepi jalan. Lalu teman saya menyarankan untuk belajar di lapangan Kodam. Katanya anaknya juga belajar setir mobil di sana dan sekarang sudah lancar. Akhirnya saya bawa ke dua anak saya untuk belajar berkendara motor dan mobil ke sana. Detail belajar berkendara saya akan bahas di sesi berikutnya.

Perlu diketahui tempat ini jika malam hari juga selalu ramai karena ada pasar malam. Setau saya di sana banyak pedagang kaki lima, kereta kelinci dan persewaan mobil-mobilan. Pada hari senin sampai sabtu biasanya siang hari sepi dari aktivitas pedagang, lapangan tampak sangat luas. Saat inilah banyak masyarakat untuk belajar berkendara sepeda, motor dan mobil. Ada juga yang berolah raga lari mengelilingi lapangan. Lain halnya hari minggu pagi, pada pagi hari lapangan ini aktivitasnya seperti malam hari dihari biasa, ramai kaki lima dan berfungsi menjadi tempat rekreasi. Selain itu, lapangan ini sering dipakai acara konser musik. Jadi sedapat mungkin saat ada event menghidari jalan sekitarnya karena pasti padat bahkan macet.

Oh ya, hampir saja saya lupa menyampaikan. Di tempat ini juga ada tempat-tempat yang biasa dipakai pengunjung berfoto. kalo tidak salah monumen meriam. Pokoknya monumen yang berkenaan dengan tentara..he he.. Intinya lapangan ini tidak hanya dimanfaatkan oleh para TNI tapi juga banyak manfaatnya untuk masyarakat sekitar. *)By: Yunie Sudiro.

Senin, 07 September 2015

Raja Durian

Dulu saat saya masih anak-anak terasa mual jika mencium aroma buah durian. Jangankan untuk mencicipi, tercium samar-samar saja saya langsung menjauh. Jadi saat itu saya tak tahu persis bagaimana rasa buah yang beraroma menyengat tersebut. Tidak tau kenapa pada awal kuliah teman-teman membeli buah durian dan ternyata saya tak terganggu sama aromanya dan bahkan mulai menyukainya. Akhirnya saya mencoba mencicipi buah yang susah di buka ini. Dan...saya langsung jatuh cinta.

Mulai saat itu saya sering membelinya terutama saat musimnya. Apalagi saya pernah tinggal di Semarang. Di sana saya bisa langsung ke tempat agrowisata durian. Seingat saya pada musim ini juga disertai musim rambutan. Jadi selama perjalanan menuju tempat agrowisata kita dapat menjumpai pohon-pohon rambutan yang berbuah merah. Hal ini sangat menyenangkan bagi saya yang sebelumnya tinggal di daerah yang rambutan tak tumbuh. Selama perjalanan kita juga sering menjumpai penjual durian, rambutan dan pete. Tapi saya tak tau persis apakah pete lagi musim atau selalu ada tiap saat. Kayaknya saya pernah bergaya memetik buah durian dari pohonnya. Semoga masih ada di file. Ehh...ketemu fotonya. Hu huii...Ini diambil tahun 2010.




Mulanya saya hanya suka makan buah ini tanpa diolah. Sampai suatu saat suami dinas ke Medan membawakan oleh-oleh pancake. Dan lagi-lagi saya langsung amat suka. Hal ini terbawa sampai saat saya pindah lagi ke kota Surabaya. Untunglah ada teman yang kasih referensi karena pada awal kepindahan saya suasana kota sudah berbeda dari 5 tahun sebelumnya, yaitu sebelum saya meninggalkannya. Waktu itu yang direferensikan adalah pancake dengan merk Raja Durian belinya di sepanjang jalan Taman Apsari. Kemasannya per biji dan beku.

Lidah saya belum berubah. Seringkali menginginkan mengecap durian. Hingga suatu sore tak sengaja saya menonton tayangan televisi tentang resto Raja Durian. Pastinya saya tak ingin melewatkan tayangan tadi karena saya ingin sekali mencobanya. Akhirnya saya mendapatkan alamatnya yaitu di jalan Medokan Ayu depan kampus Universitas Pembangunan Surabaya (UPN).

Semenjak menonton tayangan tadi, saya selalu terbayang makan di sana. Sebenarnya saya sudah mengajak suami mencoba mencicipi menu Raja Durian, tapi tidak sempat-sempat. Sampai pada suatu akhir minggu saya sedikit mengultimatum agar segera diajak makan di sana. Maklum jarak dari rumah lumayan jauh dan harus masih mencari-cari alamatnya. Kalau saja dekat rumah dan tau di mana tempatnya pasti saya sudah berangkat sendiri. Akhirnya...sampai juga saya di sana meski sepanjang jalan menuju UPN mata melotot mencari-cari tulisan Raja Durian.

Begini sepintas pengalaman saya tentang Raja Durian. Saat kita datang langsung disodori buku menu kemudian langsung bisa pesan di kasir dan melakukan pembayaran. Makanan akan datang setelah kita melakukan traksaksi. Jadi jika kita ingin menambah pesanan harus melakukan proses yang sama, padahal kadang harus antri lagi di kasir. Makanya jika mau nambah, lakukan transaksi sebelum makanannya benar-benar habis....Selain itu, ada aroma durian di saat-saat tertentu, sepertinya pada saat membuka penyimpanan durian. oh ya, kebetulan waktu itu saya duduk di dalam. Saya tak tau apakah aroma tadi terasa sampai tempat duduk luar apa tidak. Buat saya sih..suka-suka aja sama aroma durian. Sebelumnya saya mau mengiming-imingi para pembaca dengan gambar menu yang saya pesan. Biar kebayang dulu rasa nihmatnya.










Singkat cerita, kami memesan otot goreng, atot goreng tepung, cumi hitam, semua disajikan dengan sambal durian. Untuk sambal tidak ada yang tanpa durian. Meskipun begitu, tidak tampak ada durian diuleg kok. Rasanya juga tetap seperti sambal. Kami juga memesan beberapa minuman dari durian dan pancake. Khusus pancake kita suka yang original (seperti yang biasa kita beli di Taman Apsari). Semuanya kita suka dan kepingin balik lagi. Dasar penyuka durian..*) By: Yunie Sudiro.

Rabu, 19 Agustus 2015

Padasan

Mengawali aktivitas menulis sering saya lakukan setelah sejenak "googling" mencari tau topik yang serupa. Sekedar ingin tau apa yang pernah dialami dan dibahas oleh individu lain. Saya tak menyangka kata padasan ternyata masuk dalam Kamus Bahasa Besar Indonesia (KBBI) yang artinya tempayan yang diberi lubang pancuran (tempat air wudhu). Setau saya kata padasan hanya dikenal oleh orang-orang yang hidup di masa kecil saya dan tinggalnya tidak di kota besar di Jawa Timur atau Jawa Tengah. Dan ternyata arti dalam kamus tadi persis seperti yang saya maksud. Akan tetapi apakah saat ini kebanyakan orang masih mengenal istilah ini?

Bangunan rumah saya mulai berumur 10 tahun. Beberapa bagian rumah sudah mulai butuh perhatian. Yang paling urgent adalah suara ngacir air yang tidak mau berhenti. Siapa sih yang mau tagiham PDAM membengkak sia-sia? Maka dengan percaya diri saya meminta tolong suami melepas shower yang menjadi sumber masalah tadi. Percaya diri bahwa tanpa harus ahlinya bisa melepasnya. Dengan perkasa suami memutar pangkal kran, dan...klek...lepaslah shower. Seharusnya kita senang bisa melepaskan, tapi ini malah kita merasa sedih karena ternyata lepasnya tidak tuntas, melainkan putus. Jadinya ada sebagian sisa pangkal shower yang tertinggal dalam saluran pipa. Kalau ini, mau tak mau harus diserahkan pada ahlinya alias tukang. Hanya saja tak mungkin saat itu juga kita mendapatkan tukang.
Awalnya bingung juga, PDAM dimatikan kita tidak bisa aktivitas, tidak dimatikan bekas shower airnya ngocor dan mengurangi tekanan air pada kran lainnya. Untungnya saya teringat masa kecil dimana lubang padasan ditutup kayu jika tak digunakan. Langsung saja kami mencoba mengaplikasikannya. Ternyata dengan rautan kayu saja tak cukup, supaya lebih rapat ujung kayu dililit plastik. Kalau yang bagian plastik ini terus terang saya lupa, yang ingat sang mantan pacar. Cara ini ampuh dalam mengatasi masalah kami yang keliatan remeh tapi berdampak cukup merepotkan.

Keesokan harinya saya mendapatkan tukang untuk memperbaiki kran. Karena sudah manggil tukang saya bermaksud melakukan pergantian dan perbaikan bagian lainnya, yaitu kran selain yang tadi, otomatis pompa air, nat keramik kamar mandi dan kebocoran pipa air sebelum meteran PDAM. Setelah pak tukang survey dan menyiapkan pekerjaannya, berpamitan sama saya untuk beli bahan. Sebelum berpamitan sempat memberitahukan jika kesorean dikerjakan besok pagi saja. Wah... kalau ini benar-benar terjadi, saya lebih repot lagi. Gimana tidak, lubang pipa sekarang malah nambah lagi. Makanya pak tukang saya wanti-wanti harus balik hari itu juga. Ehh...setelah ditunggu-tunggu gak datang, sampai gak bisa mandi. Baru setelah dicek kasih kabarnya ke suami dan sepakat pak tukang balik esok hari dimana yang diajak berunding gak tau kondisi rumah yang sudah ada 2 lubang pipa air yang siap membanjiri rumah jika PDAM dinyalakan. Lagi-lagi solusi kuno tadi kita aplikasikan sebagai penyelamat.

Di era sekarang, yang lebih modern dari saat masa kecil saya, banyak hal yang lebih dimudahkan. Pada saat ini kita sangat terbantu dengan kemajuan teknologi yang ada. Pekerjaan kita menjadi lebih mudah diselesaikan dengan waktu yang lebih singkat. Hanya saja semua itu di saat tertentu bisa saja tak berjalan sebagai mana mestinya. Contoh: mesin cuci dan rice cooker tak bisa digunakan saat listrik mati. Jadi kita perlu memperkenalkan atau mewarisi cara-cara tradisional kepada anak-anak kita agar bisa survive apapun kondisi lingkungannya.*) by: Yunie Sudiro